Kenapa Kami Tidak Punya Halaman 'Services'
Bagaimana satu pilihan kata di navigation bar memfilter ribuan visitor sebelum mereka bahkan klik.
Gaffy
Founder & Product Lead
8 min read
Pas tim desain pertama kali ngirim wireframe Dartstudio, ada satu hal yang saya minta diubah sebelum saya bahkan lihat layout halaman lain.
Di header nav, item ketiga dari kiri bertuliskan Services.
“Tolong ganti,” saya bilang.
“Ganti jadi apa?”
“Belum tahu. Tapi bukan itu.”
Kedengarannya sepele. Satu kata di nav bar. Tapi diskusi yang muncul setelahnya, yang berlangsung dua minggu, adalah salah satu diskusi paling penting yang kami lakukan saat membangun studio ini.
Apa yang dibawa satu kata
Setiap kata punya berat. Sebagian besar berat itu invisible. Pembaca nggak sadar mereka membaca kata X dan bukan kata Y, tapi reaksi mereka terhadap halaman sudah dibentuk sama pilihan itu sebelum mereka sempat berpikir.
“Services” itu kata yang mengkomunikasikan satu hal dengan sangat jelas: kami ada untuk melayani, Anda ada untuk membeli. Itu kontrak transaksional. Sederhana. Bersih. Nggak ada ambiguitas soal siapa yang ngeluarin uang dan siapa yang nerima brief.
Ada kelas bisnis tertentu di mana kontrak itu sangat tepat. Kalau Anda jalanin agensi yang jual production capacity, Anda kasih saya brief, saya kasih Anda deliverable, kata “Services” itu pilihan yang jujur dan akurat. Nggak ada yang salah di situ.
Yang jadi salah adalah saat kata itu dipakai buat hubungan yang nggak transaksional. Saat kata itu dipakai sama studio yang sebenarnya pengen bangun partnership. Saat kata itu dipakai sama konsultan senior yang bakal nolak brief Anda kalau menurut mereka brief Anda salah. Saat kata itu dipakai sama tim yang akan push back terhadap keputusan Anda dan kadang nolak project yang nggak sehat.
Saat kata “Services” dipakai untuk relationship kayak gitu, dia bohong. Dan kebohongan kecil di nav bar akan berkembang jadi misalignment yang lebih besar di sales call. Lalu di kickoff. Lalu di delivery.
Diskusi yang berlangsung dua minggu
Balik ke wireframe.
Setelah saya bilang “bukan Services,” tim desain nanya alternatifnya apa. Beberapa muncul di whiteboard:
Work With Us. Lumayan, tapi terasa kayak recruitment page. Ada juga ambiguitas: “work with us” bisa diartikan “kerja di tempat kami” atau “berkolaborasi sama kami.” Pass.
Engagements. Terlalu formal. Terasa kayak law firm. Pass.
Partnerships. Dekat sama yang kami mau, tapi udah terlalu over-used di tech industry. Setiap startup ngeklaim “partnership” buat hal yang sebenarnya transaksional. Pass.
Solutions. Saya nggak akan jelasin kenapa ini di-pass. Anda udah tau.
What We Do. Terlalu vague. Pembaca harus klik buat tau apa.
Offerings. Terdengar kayak kafe. Pass.
How We Help. Friendly tapi sekali lagi mengkomunikasikan helper-helpee dynamic. Pass.
Kami stuck selama beberapa hari. Setiap pilihan terasa salah dengan cara yang berbeda. Sampai salah satu partner kami melontarkan kata yang sebelumnya nggak terpikir:
Collaborate.
Kami pause.
“Itu kata kerja, bukan kata benda.”
Iya.
“Itu nggak standard di nav bar.”
Iya.
“Itu mengkomunikasikan dua arah.”
Iya.
Dipilih.
Apa yang dilakukan kata itu
Saya nggak akan nulis bahwa kami udah ngejalanin A/B test selama enam bulan dan ada lonjakan rasio konversi sekian persen. Kami belum sampai di titik itu, dan kalaupun nanti, angka dari satu studio terlalu kecil untuk berguna sebagai data buat orang lain.
Yang saya bisa tulis adalah ini: sebelum bangun Dartstudio, sebagian besar partner di tim ini udah belasan tahun kerja di sisi lain dari sales conversation. Sebagai engineer atau arsitek yang dipanggil ke meeting setelah agensi atau vendor udah tanda tangan kontrak. Kami lihat berkali-kali pola yang sama: klien datang dengan ekspektasi yang dibentuk sama signaling vendor, dan saat ekspektasi itu nggak match sama realitas engagement, drama yang muncul selalu sama.
Klien yang masuk lewat pintu bertuliskan Services datang dengan brief dan minta quote. Itu nggak salah. Mereka baca signaling dengan akurat. Tapi saat vendor itu sebenarnya consultant yang akan nolak brief mereka karena brief-nya nyembunyiin masalah yang lebih dalam, pertemuan pertama jadi mismatch. Klien merasa di-overpromise. Vendor merasa under-appreciated. Nggak ada yang salah; cuma signaling-nya bohong sejak awal.
Yang kami harapkan dari kata Collaborate, dan ini hipotesis kami, belum kesimpulan, adalah signaling yang berbeda menarik percakapan yang berbeda. Visitor yang ngeklik kata yang nggak familiar adalah visitor yang lagi mengevaluasi siapa Dartstudio, bukan lagi scanning buat vendor termurah. Mereka mungkin datang dengan masalah bisnis dan minta diskusi, bukan dengan brief jadi dan minta quote.
Apakah hipotesis ini benar? Kami akan tau beberapa tahun lagi. Yang kami yakin sekarang adalah: signaling lama akan menarik percakapan lama, dengan friksi yang udah pernah kami rasain di karir sebelumnya. Mengganti signaling adalah cara paling murah untuk menghindari friksi itu. Dan kalaupun hipotesisnya salah, biaya mengganti satu kata di nav bar jauh lebih kecil dari biaya menjalani lima tahun engagement sama klien yang ekspektasinya nggak pernah match.
Kata di nav bar bukan jaminan. Tapi dia adalah hipotesis pertama yang kami bawa ke setiap percakapan.
Implikasi yang lebih luas
Saya nggak nulis ini buat argue bahwa semua studio harus ngeganti “Services” jadi “Collaborate”. Itu missing the point.
Yang saya argue: kata-kata di navigation bar Anda adalah filter pertama yang dibaca calon klien, dan mereka baca filter itu sebelum baca apapun di halaman.
Hampir semua bisnis ngabisin waktu yang signifikan nulis copy buat hero section, value proposition, feature description, testimonial. Tapi nav bar, yang dilihat 100% visitor sebelum 100% konten lainnya, biasanya diisi dengan default template: About, Services, Pricing, Blog, Contact.
Default itu mengkomunikasikan satu hal ke calon klien: bisnis ini terstandardisasi, sama seperti ribuan bisnis lain dengan nav bar yang sama.
Buat sebagian bisnis, itu pesan yang tepat. Buat SaaS yang pengen terlihat reliable dan familiar, ngikutin template adalah pilihan yang masuk akal. Pembeli mereka mencari predictability.
Tapi buat studio kecil, buat konsultan senior, buat premium service business, buat founder yang positioning-nya berbeda, ngikutin template adalah mengkomunikasikan bahwa positioning Anda sebenarnya nggak berbeda. Anda ngaku boutique, tapi nav bar Anda sama dengan agensi 200 orang. Klaim Anda kontradiksi dengan UI Anda.
Pertanyaan yang berguna buat Anda tanya ke diri sendiri:
Apakah setiap kata di nav bar Anda akurat menggambarkan bagaimana Anda pengen diperlakukan? Atau ada satu-dua kata yang Anda pilih karena “begitulah yang dilakukan website lain”?
Kalau Anda ngeganti satu kata di nav bar, mana yang paling akan ngeganti ekspektasi calon klien? Jawaban atas pertanyaan ini biasanya nunjukin misalignment terbesar antara positioning Anda dengan presentasi Anda.
Apakah Anda nyaman dengan jenis inquiry yang nav bar Anda menarik? Kalau Anda dapat banyak inquiry dengan ekspektasi yang salah, kemungkinan nav bar Anda mengundang ekspektasi itu. Bahkan saat hero section Anda nyoba mengkomunikasikan yang sebaliknya.
Catatan kecil tentang biaya
Mengganti “Services” jadi “Collaborate” itu nggak gratis. Ada biaya yang kami bayar.
Biaya pertama: SEO. Nggak ada yang mengetik “collaborate dengan studio teknologi” di Google. Orang mengetik “jasa pengembangan software” atau “software development services”. Kalau kami pengen traffic dari search, kami harus kompromi atau kami harus dapat traffic dari channel lain.
Kami milih kedua. URL path masih /collaborate, tapi page title dan meta description pakai bahasa yang lebih searchable. Internal content pakai keyword yang sesuai sama search intent. Kami kalah sedikit di organic search, tapi nggak kehilangan semuanya.
Biaya kedua: waktu edukasi. Beberapa calon klien yang nelpon dari referral bingung sama istilahnya. “Jadi kalian ini agensi atau konsultan?” Kami harus jelasin. Itu friction kecil yang kami tambahin ke proses sales.
Tapi friction kecil itu juga berfungsi sebagai filter. Calon klien yang nggak sabar sama satu paragraf penjelasan biasanya juga nggak sabar sama diskusi panjang soal arsitektur. Mereka mencari vendor yang langsung quoting harga. Bukan kami.
Setiap pilihan branding punya biaya. Yang penting bukan menghindari biaya, tapi memastikan biaya yang Anda bayar mengarah ke filter yang Anda inginkan.
Penutup
Saya mulai nulis artikel ini dengan ide bahwa ini cerita tentang satu kata. Tapi semakin saya menulisnya, semakin jelas ini bukan tentang kata. Ini tentang kejujuran antara branding dan operasional.
Kalau Anda jalanin studio yang pengen partnership, tapi nav bar Anda mengkomunikasikan service vendor, di mana letak kejujurannya? Calon klien yang baca nav bar Anda akan mengkalibrasi ekspektasi mereka berdasarkan itu, dan saat mereka masuk dengan ekspektasi salah, Anda akan ngabisin engagement buat meluruskan ekspektasi itu. Atau Anda akan menyerah dan jadi service vendor yang Anda klaim bukan.
Saya curiga banyak studio yang frustrasi dengan “klien yang nggak menghargai keahlian kami” sebenarnya frustrasi dengan klien yang bereaksi sangat akurat terhadap signaling mereka sendiri. Kalau Anda signal service vendor di nav bar, jangan kaget kalau Anda diperlakukan sebagai service vendor di sales call.
Solusinya nggak rumit. Tapi solusinya juga nggak nyaman, karena memaksa Anda memilih kata yang asing, yang lebih sulit dijelasin, yang akan menurunkan volume inquiry sebelum naik kualitasnya.
Itu trade-off yang masuk akal hanya kalau Anda yakin sama positioning Anda. Kalau Anda nggak yakin, kalau Anda masih pengen opsi buat nerima semua project yang masuk, pertahankan “Services” di nav bar. Itu kata yang jujur buat bisnis yang pengen tetap fleksibel.
Tapi jangan klaim partnership sambil signaling transactional. Pilih satu. Dan biarkan UI Anda sesuai.